Welcome to potretmaluku.com

Selasa, 06 Januari 2009
Halaman Depan arrow Jendela Internasional arrow Sukacita Iran atas krisis dunia
Sukacita Iran atas krisis dunia Cetak
Rabu, 15 Oktober 2008
ImageSementara perekonomian dunia tengah porak-poranda, pemerintah sebuah negara justru bersuka cita. 

Sementara dunia menahan emosi di tengah gejolak pasar keuangan, Republik Islam Iran bersenang-senang.

"Kami bahagia bahwa ekonomi Amerika terancam, dan mereka menebus kejahatan-kejahatan mereka. Tuhan sedang menghukum mereka," kata Ayatollah Jannati, salah seorang ulama senior di Iran.

Presiden Ahmadinejad sudah lama menyatakan kapitalisme dunia ambruk, dan mengumumkan bangsa Iran seyogyanya bersiap untuk mengatur dunia.

Jika bahasa Farsi mengenal padanan kata "schadenfreude" (suka cita demi melihat orang lain ditimpa kesulitan), inilah ungkapan itu.

Untuk sementara, Iran tampaknya lolos dari petaka.

Nilai saham di bursa Tehran, meski turun sedikit akhir-akhir ini, menguat sebesar 20% dalam setahun ini, sementara indeks di bursa di Amerika dan Eropa berguguran.

Kalangan yang aktif di bursa mengatakan kepada saya bahwa yang mereka lebih minati adalah kemajuan rencana privatisasi yang digulirkan pemeirntah, dan berbagi faktor domestik lain.

Pialang Bahrom mengatakan, krisis ini mendatangkan peluang bagi Iran. Dia menasihati investor asing agar mencermati pasar Iran.

Pialang lain mengatakan, pasar di sini lebih terkait dengan politik daripada ekonomi.

Ekonomi minyak

Iran tentu bangga bisa melawan trend internasional.

Iran merupakan tempat satu-satunya di dunia, mungkin dalam sejarah dunia, tempat anda bisa meminjam uang dari bank dan menerima imbalan lebih tinggi dari menyimpannya di bank yang sama.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, yang menyatakan dia bangga akan ketidaktahuannnya tentang ekonomi, tampaknya juga yakin hukum persediaan dan permintaan tidak berlaku di republik berhaluan Islam seperti negaranya.

Dia bersikukuh menyatakan, jumlah uang tunai yang melimpah dalam perekonomian negaranya, likuiditas berlebihan, bukanlah penyebab laju inflasi terus melambung hingga 25%.

Namun, dalam kasus ini, tampaknya pasti hanya masalah waktu sebelum hukum gravitasi menimpa perekonomian Iran.

Meski sektor industri tumbuh, dan ada upaya-upaya diversifikasi lain, Iran masih sangat bergantung pada cadangan minyak dan gasnya yang sangat berlimpah.

Menurut survei BP, Iran memiliki cadangan minyak dan gas terbesar dunia, dan eksportir minyak terbesar ketiga dunia.

Kementerian perminyakan Iran mengatakan, negaranya mengantungi 70 miliar dolar dari ekspor minyak tahun lalu. Dan, jumlah itu merupakan komponen terbesar pemasukan ekspor dan pendapatan pemerintah.

Namun, harga minyak telah merosot ke kisaran $60 per barel dari posisi puncak, dan masih terus menurun, ini pasti kabar buruk bagi neraca keuangan Iran.

Hari perhitungan

Dalam teori, dalam masa-masa makmurnya, Iran mengerahkan pemasukan dari minyak ke dalam dana stabilisasi.

Namun, pemerintahan Presiden Ahmadinejad tidak mengalami kesulitan membelanjakan uangnya, apalagi saat harga minyak mendekati $150 per barel.

Tidak jelas berapa banyak dari rezeki nomplok dari aliran minyak itu masuk ke pundi-pundi deposito pemerintah.

Yang jelas, Ahmadinejad membagi-bagikan uang ke kawasan pedesaaan dan provinsi.

Kontrak berskala besar diberikan kepada Pasukan Pengawal Revolusi. Selain itu, dana dalam jumlah besar juga diberikan, dipinjamkan, atau 'ditanamkan' di negara-negara sahabat Iran, baik di Timur Tengah mau pun Amerika Latin.

Banyak warga biasa Iran mulai mempertanyakan nasib uang negara itu.

Kini hari perhitungan mungkin mendekat.

"Dampak langsung krisis keuangan di Amerika Serikat ini bagi bangsa Iran, mungkin sebenarnya lebih besar daripada bagi warga Amerika, akibat harga minyak, dan ketergantungan kami pada ekspor minyak," kata Saeed Leylaz, salah seorang ekonomi independen dan paling vokal di Iran.

"Jika harga minyak Iran akan mencapai $75 hingga $80 per barel, kami kehilangan $50 miliar (per tahun) dan itu berarti bahwa kita kehilangan antara $700 dan $800 per kapita," tambahnya.

Kenyataannya, harga minyak Iran sudah mendekati angka itu dan tampaknya akan terus merosot.

Di kawasan makmur di bagian utara Tehran, orang bisa melihat tanda-tanda penurunan ekonomi. Sebelumnya terjadi boom bisnis properti, termasuk blok apartemen mewah yang menggantikan vila-vila kuno. Namun, pekerjaan konstruksi kini mulai berhenti. Harga properti turun 20% dari tingkat tertinggi, kata seorang agen properti.

Kebanyakan warga Iran akan senang dengan tarif sewa dan harga properti turun. Bagi mereka, sepanjang yang mereka ingat, kehidupan mereka susah diiringi laju inflasi dan tingkat pengangguran tinggi.

Keresahan sosial

Namun, penurunan nilai properti ini bisa jadi tanda pertama penurunan ekonomi secara umum yang bisa mendatangkan implikasi sosial dan politik besar bagi Iran.

Leylaz memprediksi penurunan harga minyak bagi Iran dan pemerintah.

"Itu berarti likuiditas bertambah, semakin banyak masalah ekonomi, dan inflasi membubung. Itu berarti Kesenjangan sosial dan keresahan sosial memburuk," katanya.

Bagi Presiden Ahmadinejad, ada kemungkinan serius bahwa dana akan menipis, saat dia melancarkan upaya untuk dipilih kembali dalam pemilihan yang mungkin berlangsung Juni mendatang. Jika tida ada dana yang tersisa untuk dibagi-bagikan, semangat pendukungnya bisa jadi menghadapi cobaan.

Dan, jika harga minyak anjlok tajam, itu juga bisa mengubah kondisi internasional.

Saat ini, salah satu kendala terbesar bagi Barat untuk menghadapi Iran adalah risiko membuat harga minyak melonjak.

Tanpa masalah ini, banyak peluang baru terbuka.

Semua ini memerlukan waktu beberapa bulan untuk terjadi. Untuk sementara, uang masih terus mengalir masuk, dan para penguasa Iran bisa bersuka cita melihat dunia loyo dan terpecah perhatiannya.

Namun, seberapa suka cita para Ayatullah atas ambruknya kapitalisme dunia, masih mungkin kapitalisme akan menyerang balik.(BBC)

 

 
< Sebelumnya