| Ribuan Triliun Raib di Laut Maluku |
|
| Rabu, 15 Oktober 2008 | |
Bagi mereka, lautan Maluku dan sekitarnya adalah
satu-satunya surga yang tak ditemukan di negara manapun.
Dari
sisi kerugian negara akibat operasi pencurian ikan oleh kapal berbedera asing
di wilayah Indonesia yang berlangsung selama 30 tahun lebih, telah menembus 209
miliar dollar AS atau sekitar 2090 triliun (kurs Rp 10 ribu). Fakta
kerugian negara tersebut dilontarkan oleh Kepala Pusat Riset Perikanan Tangkap
Departemen Kelautan dan Perikanan, Victor PH Nikijuluw, dalam acara peluncuran
bukunya berjudul Blue Water Crime: Dimensi Sosial Ekonomi Perikanan Ilegal di
Gedung KOI, Menurut
Nikijuluw, setiap tahun lebih dari 5000 ribu kapal berbendera asing melakukan
aktivitas haram dengan merampok potensi perikanan dalam jumlah yang tidak
terbatas. Salah satu lokasi tangkap yang bebas dan menjadi sarang bagi
kapal-kapal asing tersebut adalah perairan Maluku dan Papua. Nilai
kerugian ini sebanding dengan beban subsidi BBM sebesar Rp 54,3 triliun pada
2006. Bahkan melebih penerimaan negara dari sektor pertambangan Freeport di
Papua yang hanya menyumbang sekitar Rp 15,4 triliun pada tahun 2005. Nikijuluw
dengan suara keprihatinan menjelaskan, perikanan dalam konteks IUU (Illegal,
Unreported, Unregulated) ibarat virus ganas yang mematikan seluruh potensi dan
harapan industri perikanan di negeri ini. Menanggapi
apa yang disampaikan oleh Kepala Pusat Riset Perikanan Tangkap Departemen
Kelautan dan Perikanan tersebut, dalam pandangan redaksi KBO Maluku,
sudah saatnya menjadi tanggungjawab Pemerintah pusat dan khususnya Pemda Maluku
untuk bangkit melakukan upaya pencegahan secara nyata. Uang
ribuan triliun yang raib di laut Maluku akibat pencurian yang dibiarkan bebas
oleh aparat penegak hukum, tidak bisa dibiarkan terus berlangsung. Mengingat,
kekayaan laut Maluku adalah anugrah dan sekaligus amanah dari Tuhan bagi
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Maluku dan bangsa Membiarkan kejahatan pencurian atas kekayaan laut Maluku, sama hal dengan mengingkari nikmat yang diberikan oleh Sang Pengasih. Dan lebih parah lagi, kita akan terus terjebak hidup melarat dan terancam mati kelaparan ditengah-tengah sumber kekayaan alam kita yang berlimpah. |
| Berikutnya > |
|---|